ndek jaman semono

The Memory (still ) Remains

” a pet is never trully forgotten until it is no longer remembered “
~ Lacie Petitto ~

Sangat lebay sebenarnya,apalagi mengingat usia saya yang mulai berumur.Tapi tak apalah,what’s in my thought is what i’m going to write.
Sudah tiga hari ini saya mencoba me-rewind lagi semua memori tentang masa kecil saya.Semua terjadi setelah unedited #7 keluar.
Saya masih diawal-awal SD saat itu.Bertempat tinggal di Jayengan Tengah,sebuah kampung di tengah Solo.Alkisah,seekor induk kucing yang biasa nongkrong didekat rumah kami melahirkan tiga anaknya.Lucu,mungil dan menimbulkan iba.
Saya dan adik saya berinisiatif menaruh mereka didapur.Berselimutkan kain gombal dan perca.Saya lupa siapa yang memberi nama mereka.Yang pasti saya masih ingat dengan nama Asa,Manis dan Belang.
Asa,sama seperti Belang.Berbulu hitam dan putih yang hanya bisa dibedakan dari letak belang mereka.Sedangkan Manis layaknya kucing rumahan biasa.Mereka memang bukan persia,siam,rag doll atau angora.Namun bagi kami,anak-anak yang baru mengenal arti hewan piaraan,mereka adalah istimewa.
Kami bukan keluarga kaya,namun kami tidak segan jatah susu cap nona atau lauk ikan sepat kami dihabiskan mereka.Kalau dibilang sayang banget sih tidak.Dijarne (dibiarkan) kata orang jawa.Mereka bebas keluar masuk rumah atau tidur dibawah kursi.
Dibanding adik saya yang kalem,saya yang berangasan ini yang paling sering marah jika ada kucing lain yang mengganggu mereka.Jika batang hidung mereka tidak nongol seharian,saya pasti bertanya ke ibu.“Buk,Asa neng ndi?’

Dan jika jawaban yang saya terima kurang memuaskan,saya tingak-tinguk mencari kemana-mana.
Beberapa bulan setelah resmi menjadi piaraan kami,Belang kecil mati ditangan seekor kucing dewasa.Jujur,saya marah luarbiasa saat itu.Di usia yang masih belia itulah saya mengenal kata dendam.Sampai suatu ketika,kucing dewasa itu lewat didepan rumah.Sontak saya berlari kedapur mengambil gayung berisi air termos dan menyiramkannya ke kucing itu.Suatu tindakan kejam dan bodoh oleh anak ingusan.Dan hasilnya? Gayung baru mau diayunpun kucing itu sudah kabur.Mak plencing meninggalkan saya yang termangu,antara gondok karena tidak berhasil melampiaskan dendam,dan kaget akan kenekatannya sendiri.
Aral tidak hanya disitu saja.Kakak perempuan dan ninik (nenek) saya tidak menyukai Asa dan Manis.Ibupun demikian meski dia memilih diam,tahu bahwa mereka adalah teman bermain dua anak lelakinya.
Saya cenderung lengket dengan Asa ,dan Manis saya anggap milik adik saya.Semakin besar tubuhnya,mereka berdua menjadi pemburu bola kasti dan tikus yang (pura-pura) handal meniru induknya.Meski tak jarang saya tersenyum geli saat melihat mereka kabur secepat kilat ketika bertemu muka dengan tikus yang berbadan lebih besar.
Hingga suatu saat,orang rumah marah besar ketika ada bangkai tikus terselip dibawah genteng.Hasil perburuan Asa dan Manis katanya.Dari situlah kedua makhluk mungil itu dianggap biang bencana.Yang bikin mengi lah,buang kotoran sembaranganlah,berantakin tong sampah dan sebagainya.Padahal kucing lain didekat rumah segambreng jumlahnya.Dan kucing adalah binatang satu-satunya didunia yang sudi mengubur kotorannya sendiri.
Beberapa minggu kemudian,sepulang sekolah kabar dukapun tiba.Asa terlindas becak kata ibu.Saya tidak percaya begitu saja.Asa yang gesit dan pecicilan itu terlindas ban becak.Bangkainya pun katanya sudah dikubur didepan rumah.Saat itu saya memilih diam.Asa dibuang,begitu pikir saya.Dibuang jauh dan tak mungkin kembali.Dan sayapun mulai menanti Manis.
Saya tahu Manis bakal bernasib sama dengan Asa.Dibilang mati atau dibuang sama saja artinya.Saya tidak dapat bermain dengan mereka lagi.
Dan Manispun muncul.Dari bisik-bisik orang rumah saya tahu Manis bakal dibuang di Kampung Sewu,tempat simbah saya di timur kota.Cukup jauh dari rumah.
Tak guwake dewe…” bisik saya.Jika memang kami harus berpisah,biarlah saya sendiri yang melakukannya.Setidaknya saya bisa pamitan sendiri.
Sore itu juga,dengan Manis ditangan kiri sambil mengayuh sepeda mini reot saya melaju ke arah timur.Tidak jauh,hanya ke sebuah kampung yang terpisah satu jalan besar dari kampung saya.
Dan disitulah,di trotoar Soniten,tempat para bakul sego liwet berjualan dimalam hari saya melepas Manis.
Tak ada tangis,tak ada senyum.Saya hanya mampu menatap mata beningnya,menggaruk belakang kupingnya dan berkata “mengko ketemu maneh “
Lalu saya berbalik,secepat mungkin mengayuh pedal menyeberangi jalan besar.Tak sanggup menengok ke belakang.Karena saya tahu Manis pasti akan membuntuti.Karena saya tahu dia akan mengeong kebingungan di pinggir trotoar.Menghadapi lingkungan baru dan yang pasti,musuh-musuh baru.Namun itulah jalan terbaik bagi kami…
Sungguh sebuah logika anak-anak.Saat itu saya yakin dia tidak akan kelaparan karena banyak penjual makanan disana.Dari pagi hingga pagi lagi.Dari tenongan,sego liwet,cabuk rambak maupun wedhangan.Dan lokasinya yang tidak jauh dari rumah setidaknya membuat saya bernafas lega.At least,she’s not far from me.
Setelah kejadian itu saya sempat beberapa kali ke Soniten.Duduk sendiri di trotoar menunggu dan mengamati kucing-kucing lewat.Atau sekedar menoleh ketika melewati kampung tersebut.Berharap menemukan sosok Manis dan jika mungkin,Asa.
Namun dari sekian kucing yang saya temui,saya sudah tidak mampu mengenali yang mana si Manis.
Puluhan tahun berlalu,saya tahu bahwa Manis dan juga Asa sudah pasti tiada dan beranak cucu.Namun rasa eman kepada hewan (apapun) seolah terus melekat.Sekian lama mereka terlupa,tapi bongkah memori itu terpatri dan turut membentuk sebuah pribadi dan karakter hati.
Benar kata Amy Sedaris,
sometimes losing a pet is more painful than losing a human,because in the case of the pet,you were not pretending to love it”

~dedicated to all kids in the world and their loyal companion
~gambar-gambar dibawah adalah kucing-kucing yang saya jumpai di rumah ketiga saya,mykonos

image

image

wpid-PicsArt_1380481153377.jpg

image

image

 

 

pemilik butik yang berbaikhati memberi makan didepan butiknya

pemilik butik yang berbaikhati memberi makan didepan butiknya

image

telentang

telentang

berputar

berputar

 

sok serius

sok serius

image

 

image

penampakan Asa

penampakan Asa

penampakan  manis

penampakan manis

 

image

image

“Child psychology and animal psychology are of relatively slight importance, as compared with the sciences which deal with the corresponding physiological problems of ontogeny and phylogeny”
~Wilhelm Wundt~

santorini 300913

Advertisements
Categories: ndek jaman semono | Tags: | 24 Comments

Blog at WordPress.com.