mblayang spain

Kisah Bunga Dari La Rambla (Barcelona)

Keep florists of the la rambla in your prayers. Who will soon die for the hard line taken by The Town Council of Barcelona and for the incomprehension of  Convergència I Unió after massive indigestion of tourism. The funerals will take place as soon as the first fines imposed by The Town Council of Barcelona will be administrated to florists. We would appreciate your support by signing The Book of Condolence.

image

Saya tertegun membaca esquela didepan kios bunga tersebut. Ragu saya mendekati sang pemilik,seorang wanita seumuran simbok saya yang sedang duduk termangu disamping deretan pot bunganya.
“So, there’ll be no more flower shops in the future? ”
” No. We will all be gone”. Jawabnya datar dalam bahasa inggris yang fasih.
Pelan saya mengalihkan pandangan menyisir La Rambla de les Flors, julukan untuk avenue yang bernama asli La Rambla de Sant Josep ini. Mendung yang menggelayuti tidak menyurutkan niat para turis yang memadati La Rambla. Termasuk saya yang sedang bergegas menuju sebuah toko musik disamping Font de Canalete Fountain.

image

Columbus Monument

image

Jum’at kemarin adalah kunjungan terakhir kami di Barcelona, kota pelabuhan terbesar di Spanyol,  yang sekaligus sebagai minggu penutup europe season menuju Lisbon sebelum kami “turun mesin” di Setubal.
La Rambla adalah ruas pedestrian terpanjang di Barcelona yang terbagi enam sesuai dengan ciri khas ruas tersebut. Bermula di Plaça de Catalunya dan berakhir di Columbus Monument,Port Vell. Area terbuka sepanjang 1,2 kilo ini diperpanjang dengan dibangunnya La Rambla del Mar di Port Vell. Sebuah kawasan pejalan yang masuk ke area pelabuhan lama Barcelona, tepat disamping Drassanes Museú Marítimo.
Berurutan dari Plaça de Catalunya terdapat Rambla de Canaletes (tempat air mancur dan taman Font de Canalete), Rambla des Estudis (avenue yang dijepit oleh gereja Betlem Church disebelah kanan dan gedung Palau Moja disebelah kiri), Rambla de Sant Josep/de les Flors (terkenal dengan kios bunga dan Boquería Market, pasar lokal terbesar di Barcelona), Rambla del Centro/Rambla del Caputxins (tempat opera house Liceu yang terbakar tahun 1994 berada), Rambla de Santa Mònica (terkenal dengan museum lilinnya) dan berlanjut hingga Plaça Reial, Columbus Monument dan La Rambla del Mar.

image

La Rambla

image

La Rambla de Santa Mònica

image

image

image

image

Pemandangan yang tidak biasa memaksa langkah saya terhenti siang itu. Diantara deretan kios bunga La Rambla de les Flors terpampang esquela dalam tiga bahasa (inggris, spanyol, catalan) yang dicetak besar-besar. Beberapa turis dan penduduk lokal nampak antri disetiap kios. Memberikan dukungan dengan mengisi buku tandatangan.

image

image

image

image

image

image

Masalah bermula ketika pertengahan oktober kemarin Dewan Kota Barcelona menjatuhkan denda kepada setiap kios bunga di La Rambla de les Flors. Dengan dalih menyalahi ijin yang diberikan, tigabelas kios tersebut diharuskan membayar sebesar 750 euro hingga tenggat waktu yang ditentukan yaitu November 4,2013( Meski ketika terakhir saya disana tindakan tegas belum diberikan pemerintah). Setiap kios dinyatakan bersalah karena menjual barang seperti suvenir, magnet kulkas, postcard dan semacamnya selain dari ijin berjualan bunga yang sudah diberikan (La Vanguardia, 16 oktober 2013).
Namun akar masalah sejatinya adalah membludaknya turis di La Rambla, tingginya tingkat kriminalitas dan surutnya minat para Barcelonan (sebutan untuk penduduk lokal) membeli bunga di La Rambla.
Joan de Sagarra, salahsatu kolumnis La Vanguardia (suratkabar lokal Barcelona) pernah berkata ” When I was young, The Ramblas was a place of flowers and birds. The Ramblas of today is not my ramblas.”
Suratkabar tempat dia menulis bahkan lebih sarkas lagi. “A dark boulevards where drunks impose their styles, where wallets dissappear and there are fights and mugging. The sensation is of chaos, of a lost city. Barcelonans are turning their back on it “. (The Guardian, 24 Mei 2009).
Krisis ekonomi yang melanda Spanyol dan beberapa negara Uni Eropa juga dituding menjadi penyebab utama. Penduduk lokal lebih berhati-hati membelanjakan uangnya, termasuk membeli bunga yang bukan kebutuhan primer.
Ana Corin Sánchez, teman saya yang asli Barcelona menyayangkan denda yang dijatuhkan tersebut. Daripada memberikan denda, alangkah lebih baik jika pemerintah lebih fokus mengatur La Rambla dari segi keamanan dan memberikan alternatif usaha lain selain bunga. Tanpa pendapatan sampingan dari berjualan souvenir, kios-kios bunga tersebut dipastikan tidak bertahan lama.
Amics de La Rambla, paguyuban tempat para kios bunga dan toko souvenir tersebut bernaung, juga menyesalkan langkah yang diambil dewan kota tersebut. Kompetisi itu ada dimana-mana, namun dari 250 ribu turis yang memadati La Rambla setiap harinya, berjualan souvenir murah sebagai tambahan bukanlah sesuatu yang harus dirisaukan.
Ana benar, poin sebenarnya adalah bagaimana membuat warga Barcelona sendiri kembali ke La Rambla tanpa embel-embel copet, prostitusi dan krisis ekonomi. Sebuah tantangan yang sangat berpengaruh dalam hubungan rakyat Barcelona dengan pemerintah pusat.

image

image

“Muchas gracias”. Wanita tua itu tersenyum ketika saya membubuhkan tandatangan dibuku yang mereka sebut Book of Condolence itu.
“Con mucho gusto” balas saya.
Diseberang, seorang nenek tertatih-tatih berhenti disetiap kios, memberikan dukungannya. Tiba-tiba dada saya merasa sesak. Musim panas tahun depan ketika kami kembali kesini, kios-kios ini mungkin tidak ada lagi. Hilang tergerus kejamnya jaman. Teringat kembali ucapan wanita pemilik kios tersebut
“Kami semua akan beralih profesi. Kami warga asli yang kehilangan rejeki ditanahnya sendiri. La Rambla de Sant Josep akan kehilangan cirinya. Tak akan ada lagi bunga di La Rambla”

image

Note:
– Catalán adalah bahasa resmi penduduk Catalunya, termasuk didalamnya Barcelona, Valencia, Murcia membentang hingga Prancis selatan. Hampir mirip dengan Ocitan/ Langue d’ Oc dan Provencàl, bahasa asli penduduk Sete dan Rousillon (Prancis), Catalán sempat dilarang penggunaannya selama 36 tahun pada masa General Franco karena melambangkan pemberontakan Catalunya terhadap Spanyol. Dualisme (tiga dengan Basque) kebangsaan Spanyol ini tergambarkan dengan jelas dalam El Clásico, pertandingan sepakbola antara Barcelona melawan Real Madrid. Dan ketika tujuh pemain Spanyol (Carlos Puyol, Iniesta, Xavi, Casillas, Pique, Capdevilla, Valdes) membentangkan bendera Catalan ketika Spanyol menjuarai Piala Dunia.
– esquela : semacam obituary,pengumuman kematian/pemakaman
– flor(s) : bunga

Valencia-Cartagena, November 10 2013

Categories: mblayang spain | Tags: , , | 15 Comments

Blog at WordPress.com.