Monthly Archives: December 2014

Cumi Asia

Selama di Eropa saya jarang jajan di luaran. Paling-paling beli gyros di Santorini atau kebab di Kusadasi. Makanan berat terakhir saya rasakan ketika jalan bareng teman-teman di Sorrento Mei silam. Ketika akhirnya kami sampai di Singapore awal desember kemarin, godaan untuk mencecap nasi padangpun tak dapat dibendung. Dan berturut-turut setelahnya,Langkawi,Penang,Phuket,Koh Yao Noi,Lumut,Port Klang,Melaka,di semua persinggahan itu saya menyempatkan turun dan memuaskan nafsu asia saya.
Terbiasa dengan euro dan dollar memang benar-benar membuat kami kalap belanja dan makan-makan. Di eropa, sekali jalan untuk sekedar ngopi minim 10 euro keluar kantong. Di asia dengan uang segitu kami sudah makan besar berlauk udang.
Di downtown Phuket,tepatnya didepan Robinson,berjejer warung tenda dengan segala jenis masakannya. Ada satu kedai yang menawarkan cumi panggang seharga 80 bath pertusuk. Murah sekali. Otak saya masih mengkomparasikannya dengan harga masakan eropa. Saya tak mencobanya karena tidak begitu doyan cumi. Disamping penjual cumi,ada penjual khanom khrok. Penganan yang dicetak bundar dan kecil dengan rasa manis dan lembut mirip serabi. Jujur saya habis delapan biji. He..he..he..
Teh thailand yang dicampur susu pun saya sambar. Agak-agak eneg memang,tapi lumayan juga jika dicampur es.
Untuk saya pribadi, berlayar di Asia adalah sebuah rendezvous. Tiga tahun pertama dalam karier nomaden saya dihabiskan di Asia. Banyak yang berubah,namun citarasa saya tetap sama.

image

Cumi panggang

image

Baunya aduhai

image

Mengambil adonan yang sudah matang

image

Khanom khrok siap saji

image

Must try!!

Categories: Uncategorized | 7 Comments

Kapten Amerika ala Malaysia

image

Kapten Amerika ala Malaysia

Saya bertemu dengan Kapten ini di Melaka,Malaysia,sehari sebelum saya pulang ke Indonesia. Tak sempat mengorek keterangan lebih lanjut. Hanya menyapa,bercakap sebentar tentang Honda Triumphnya dan minta ijin untuk mengabadikannya.
Kapten ini dengan terang-terangan berkata “Lima ringgit Pak Cik,boleh ambil gambar”.
It’s fine by me. Tapi rekan-rekan saya (saya berempat waktu itu) heran dan sedikit menolak. Saya sendiri maklum. Tidak murah untuk memelihara sebuah triumph dengan pernak-pernik eksentriknya. Dan jujur saya salut dengan mental pengembara dan keterusterangan Pak Cik ini.
Cuman satu gambar yang saya ambil. Ketika lembaran lima US saya sodorkan, dia sumringah. Dia juga heran karena saya tak mau diambil gambarnya.
Anyway,good luck Captain. Have a safe journey!

Categories: Uncategorized | 19 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.