Monthly Archives: September 2014

Unedited #16 Mata Setan

Hampir satu dasawarsa hinggap di Turki dan Yunani , baru tahun ini saya tahu arti dari Nazar Boncugu. Di kedua negara tersebut jamak ditemukan souvenir di kios-kios berbentuk mata atau tetesan air mata berwarna biru, biasanya dijadikan bandul atau gelang bahkan gantungan kunci. Produksi massal souvenir ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat lokal bahwa seseorang dapat terkena musibah karena tatapan orang lain yang berniatan buruk terhadapnya.
Kepercayaan yang jika diurutkan ke belakang  berasal dari negara-negara timur tengah ini lalu diwujudkan dalam bentuk jimat atau amulet berbentuk mata sebagai penolak bala dan penangkal sihir.
Saya sedikit bersyukur karena mata saya tidak biru, karena orang yang bermata birulah yang pada jaman dahulu jarang dijumpai di Turki yang dipercaya sebagai pembawa sial. Itu juga sebabnya mayoritas souvenir berwarna biru sangat dominan.
Meski kepercayaan ini sendiri mulai pudar, namun jimat ini masih laris di kalangan wisatawan. Cukup dengan 3 euro, sebuah bracelet cantik bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Jika ada yang berniat mencari jodoh bermata biru, mungkin jimat ini malah bisa membantu.

image

Bracelet

image

Gantungan kunci

image

Nazar boncugu

image

Captured w/S4, resized unedited
Kotor, Montenegro 300914

Categories: pure shot! | 17 Comments

Unedited #15 Gigi Singa

Dua kuntum taraxacum yang saya temui di pinggir jalan utama Katakolon tadi mengingatkan tentang Copenhagen tiga tahun silam. Berlari kegirangan menemukan sebuah lapangan penuh dandelion bermekaran di samping benteng Kastellet, sebuah benteng luas berbentuk segi lima dengan parit lebar disekelilingnya. Saya merengek pada teman agar difoto dengan pose seorang supermodel. Tidur terlentang, menatap langit, diantara bunga-bunga kuning. Pasti keren, begitu pikir saya. Sang teman yang memang tidak bernaluri tukang foto enggan untuk ikut rebahan. Hanya menaruh kamera di tanah dan main jepret.
Hasilnya seperti jajaran hutan kuning dengan latar perut saya yang – saat itu namun sekarang tidak – sedikit buncit. Langsung saya hapus.
Gumpalan floret dandelion sering di ibaratkan sebagai bulan dan floret yang beterbangan adalah bintang. Ketika mekar sempurna dandelion tampak seperti matahari. Masyarakat disini menyebutnya kleftis, yang berarti pencuri karena sekali terbang susah untuk menangkapnya. Ibnu Sina bahkan pernah menulis sebuah bab dengan judul tarasocon. Tentang kegunaan taraxacum dalam dunia pengobatan.
Ketika dunia pengobatan modern menaruhnya dalam daftar rumput liar yang berguna, dandelion bagi sebagian kita turun kasta menjadi gulma yang harus dibasmi, kadang dikencingi

image

Taraxacum officinale

image

Bakal dandelion

Captured w/ S4, resized unedited
Butrint, Albania 270914

Categories: pure shot! | 5 Comments

Masuk masjid di Constanta

Moschea Maree Mahmud II, The Great Mehmediyah Mosque atau King Carol I Mosque. Tiga alias tersebut adalah nama sebuah masjid bersejarah di kawasan old town Constanta, Romania. Mengutip sebuah review di trip advisor “Most interesting was that it was a Christian King who funded the original building here over a 100 years ago. Wonderful views from the top of the Minaret.”

image

Carol I

Persinggahan ke empat di Constanta, dan baru dua kali saya blayangan. Romania menjadi negara baru dalam daftar negara yang pernah saya jajagi. Setelah pantai Mamaia, tujuan saya di siang awal september itu adalah Piata Ovidiu. Piata boleh diartikan sebagai square atau alun-alun (piata/placa/plaza). Ovidiu diambil dari nama pujangga romawi Ovidius Publius Naso. Patung Ovidiu berdiri membelakangi Museum Arkeologi Nasional Romania, menghadap laut hitam.
Yacht selalu menyediakan shuttle jika kami bersandar agak jauh dari kota. Tentu saja gratis. Hanya lima menit dibutuhkan minivan yang saya tumpangi untuk sampai di Boulevard Ferdinand,jalanan dibawah Piata Ovidiu. Lokasi alun-alun memang lebih tinggi dari jalan, dipermudah dengan akses tangga yang tidak terlalu terjal.
Diyakini berdiri tepat diatas bekas kota Tomis, di kebun-kebun dibawah alun-alun banyak dijumpai situs arkeolog, semua terdata dengan rapi dan diberi plakat. Museum Arkeologi yang menempati bekas balaikota menjadi jantung alun-alun. Disampingnya terdapat taman terbuka mendisplay beberapa peninggalan Tomis. Sarkofagus,tempayan raksasa, dan pilar pilar dengan inskripsi romawi berjajar rapi diantara mekarnya bunga-bunga taman. Saya membayangkan jika hal ini dilakukan di Indonesia boleh jadi tak ada sebulan artefak artefak kuno itu bakal hilang dicuri, atau di corat coreti.

image

Museum Arkeologi dan taman terbuka

image

Ladang dibawah alun-alun


image

Sarkofagus


image

image

Deretan kotak kubur di taman


image

Bunga dan museum

image

Patung ovid depan museum

Tak jauh dari alun-alun, minaret sebuah masjid menarik perhatian saya. Sedikit memasuki jalan di ujung kawasan kota tua. Agak gentar sebenarnya ketika melangkah kesana. Beberapa jam sebelumnya dua penumpang yacht dirampok preman di kawasan tersebut. Modus yang digunakan adalah dengan menyaru menjadi polisi dan menanyakan ID card serta visa mereka.

image

Rumah tua


image

Gedung kosong depan Casa Cu Lei

image

Carol I dari alun-alun

Suasana alun-alun memang lengang. Hanya satu dua turis dan penduduk lokal yang saya temui, di sore hari mungkin lebih semarak karena tidak seterik siang itu. Bau kotoran anjing, kepul debu dari pavlingan jalan yang belum jadi, pintu dan jendela berkeretak tersilir angin menyambut. Menyusur ujung kota tua itu rasanya bagai memasuki kota mati. Saya sengaja melewati masjid, menyimpannya sebagai tujuan pamungkas perjalanan. Belok kanan dari persimpangan di belakang masjid, Casa Cu Lei atau rumah singa tampak tegak, kusam dan seram. Seorang polisi dan anjingnya berjaga di depan pintu. Empat patung singa disetiap pilar menambah aura angker gedung itu. Kembali ke persimpangan, saya meneruskan jalan dari masjid. Di kiri kanan , rumah-rumah tua tak terawat berbaur dengan flat dan apartemen. Bisa dihitung dengan jari rumah yang tampak ditinggali. Semua tampak sepi, senyap. Di ujung jalan,Katedral St Paul and Peter tampak megah dan agung. Disampingnya, lagi-lagi sebuah situs arkeolog terhampar, sebelum berakhir di pagar pembatas dengan jalanan dibawahnya.

image

Casa Cu Lei


image

Katedral St Paul and Peter

image

Situs disamping Katedral

Perasaan tak nyaman yang hinggap dihati selama menelusup kawasan tersebut hilang ketika memasuki gerbang Masjid Carol I. Empat kakek-kakek yang sedang bercengkrama di beranda kanan masjid bangkit dan membalas salam saya. Konter tiket di sebelah kiri dijaga seorang ibu paruh baya. Halaman masjid sangat kecil, mungkin hanya sanggup menampung tiga buah mobil. Pot pot gantung dengan bunga beraneka warna menghiasi kedua beranda. Menyelipkan warna cerah dan asri ditengah dominasi abu-abu kusam. Dua meja kayu dan bangku panjang terletak di depan tempat wudhu diberanda kanan. Bayangan minaret tepat meneduhi halaman. Menariknya, di sebelah kanan pintu masuk masjid, berdiri replika Al Qur’an dari pualam. Terbuka pada lembar surat Al Fatihah dan awal surat Al Baqoroh, lengkap dengan terjemahan bahasa Romania dan Inggris dibawahnya.

image

Gerbang Masjid

image

Menunggu lohor


image

Al Qur'an dari pualam

image

Teduh dan asri

image

image

Halaman masjid

Setelah sedikit berbahasa monyet, saya baru tahu tidak ada peraturan khusus untuk memasuki masjid. Boleh bersepatu sampai rantai pembatas di dalam masjid. Celana pendek tidak masalah, tidak berkerudungpun tak apa. Asal sopan dan tidak naik ke minaret ketika adzan dikumandangkan. Semua larangan yang wajib hukumnya untuk masjid-masjid di Turki ternyata tidak berlaku disini. Tiket masuk seharga 3 Lei juga bisa ditebus dengan 1 euro. Pelajar dan mahasiswa cukup membayar 2 Lei. Di musim panas, jam buka masjid untuk turis dari pukul 8 pagi hingga 8 malam. Selebihnya masjid ditutup pada pukul 5 sore.
Memasuki masjid, duduk dikarpet yang konon terberat seeropa ini, saya merasa sedikit kikuk. Di yacht, kiblat bagi saya berarti menghadap tivi didalam kabin. Tak peduli yacht menuju utara, selatan atau tenggara, kiblat bagi saya ada di niat hati. Warna biru bagian dalam kubah setinggi 25 meter sekilas mengingatkan tentang kubah kubah gereja di Oia. Mimbar kayu tinggi penuh ukiran, tempat imam yang artistik menambah syahdu suasana.
Saya baru sadar betapa berat tugas seorang muadzin ketika mendaki tangga terjal meliuk bagai ular ke puncak minaret. 5 kali sehari,140 anak tangga, setinggi 47 meter…fuuh.. ditengah jalanpun saya sempat bertanya pada diri sendiri berapa kilo berat badan saya sekarang.
Pemandangan dari minaret memang menawan. Sepadan dengan peluh bercucuran yang segera sirna dihembus semilir angin. Port of Constanta, laut hitam, Katedral, alun-alun dan museum, semua terhampar di puncak tertinggi Constanta. Insting saya bilang sunset view dari minaret pastilah menawan. Dan saya tersedak, belum ada satu jam ibu penjaga konter tadi memberitahu tak boleh naik ke minaret di waktu adzan. Ah saya memang pelupa.
image

image

Ukiran perunggu di pintu masjid

image

Mimbar dan mihrab


image

Dome setinggi 25 meter

image

Menuju minaret


image

Piata Ovidiu

image

Port of Constanta

image

Black sea

image

image

Carol I

Note:
– Carol I didirikan tepat diatas pondasi bekas masjid Mahmud yang lama.
– ada satu masjid lain di Constanta, masjid Hunchiar yang didirikan Sultan Abdulaziz di tahun 1868.
-semua gambar tidak sempat diedit ^.^
Santorini-Chania 21/220914

Categories: mblayang romania | 6 Comments

Blog at WordPress.com.