Panggung Politik Indonesia

Advertisements
Categories: Uncategorized | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Panggung Politik Indonesia

  1. Kasus nomer 2 dan 3 akibat media memberikan diskon ketika menyampaikan informasi. Ada Blogger yang sempat menuliskan kisah lengkapnya. Saya setuju sekali dengan komentarnya, lebih baik punya common sense.

    • “the most important thing is the value of the individuals” gitu komen di jakpost.kadar moral seseorang buat saya tidak diukur dari perawan kagaknya.
      soal yang ngakunya salah ceplos ini juga kadang terlalu dibesar2kan.akhir juli kemarin capres dari salahsatu partai juga kena ketika ngomong ke kadernya supaya bekerja seperti kesetanan.

    • Cosmic Bookworm

      Untuk kasus no 2, perlu ditekankan bahwa yang bersangkutan TIDAK menyangkal mengeluarkan statement ofensif tersebut. Di Twitter, beliau mengKLARIFIKASI, pernyataan yang – according to you – di”diskon” media tersebut. However, the point still stands, dia mengeluarkan statement itu in the first place. 28 tweets klarifikasinya pun sangat plintat plintut. So, versi yang ter”diskon”: “Ada penyakit seperti HIV/AIDS kok malah dapat obat gratis? Harusnya mereka ada semacam punishment (sanksi) karena kesalahan mereka sendiri tidak menerapkan pola hidup sehat.” Kalimat ini menurut Wirianingsih sendiri (tanpa diskon kata/kalimat dari pihak manapun), harusnya dibaca: (saya kutip tweetnya), “a. Adapun terkait ODHA, maksud yg saya tekankan kepada pemerintah adl tdk ada pembedaan penanganan, b prioritas anggaran seharusnya fokus pd promosi preventif, dgn tdk menegasikan aspek kuratif-rehabilitatif. Itu yg sy mksd.” Ibaratnya ke kafe order kopi, ketika yang datang kopi dia klarifikasi bukan ini lho maksud saya, maksud saya adalah minuman herbal yang asalnya dari DAUN dan ada rasa strawberrynya.

      Untuk kasus no 3, again, follow-up statement yg dibuat Kadiskdik tersebut bahwa itu awalnya usulan orang tua murid doesn’t change the fact that in his mind, the very idea bahwa siswi-siswi itu musti dites keperawannya is acceptable. That’s the POINT. Tes keperawanan, berdasarkan permintaan orang tua atau tidak, should have never been the concern of Dinas Pendidikan, or public for that matter.

      • Points taken, terimakasih. Hmm agaknya anggota parlemen ini nggak paham konsep negara sebagai duty bearer dan citizen sebagai rights holder. Btw, kalau mau jadi istri perwira masih disuruh ngangkang di depan dokter lho, di test keperawanan 😦

      • Cosmic Bookworm

        Yoi, rakyat itu majikan mereka, jd kalo si “pelayan-pelayan” ini ngelunjak bodoh2in majikan, atau nyolong properti majikan (korup) ya keterlaluan bgt.

      • fe..sabar fe..minum dulu gih ^^.changing mindset semua orang emang susah.apalagi kalo udah saklek,conservative,terus ngawur nyari pembenaran sendiri.kita coa-coa kaya gimana kalo udah “ngakik” pemahamannya ya susah.cara yg lebih bagus ya ngedidik our young guns,ngebuka pikiran mereka. 🙂

      • Cosmic Bookworm

        Ini sambil ngopi sore-sore hihihi 😛
        Bener, mendidik yg cilik-cilik biar nanti gede jd orang-orang pinter yang juga wise itu lebih doable.

      • Baru kemaren indonesia mengajar digelar.pengen ngikut sih..cumaaa…

  2. masa to ai??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: