Rumah Ketiga : Ironi Tebing Sunyi ( Fira,Santorini )

Iba rasanya jika melihat para penjaga keledai itu.Sebagian dari mereka berusia uzur,beberapa ada yang masih belasan tahun.Tarif yang dipatok seharga 5 euro untuk one way trip satu keledai dari Fira ke dermaga lama atau sebaliknya sangatlah tidak sepadan jika dibanding “pajak” perkeledai yang harus disetor ke juragannya.Saya sendiri maklum melihat wajah-wajah keruh mereka.Beberapa diantaranya bahkan menunjukkan sikap tidak bersahabat.Jauh berbeda dengan tabiat penduduk lainnya.Enggannya para pelancong melewati jalur keledai dikarenakan cuaca panas dan hadirnya fasilitas cablecar menambah berat beban mereka.Dari ribuan turis yang datang melalui jalur laut hanya segelintir yang berminat melalui jalur keledai.Selebihnya memakai cara yang lebih praktis,hemat waktu dan biaya dengan menaiki cablecar ke Fira.
Saya hanya sempat dua kali memakai jalur keledai disummer 2005 dan 2011.Itupun ketika waktu saya longgar.Saat itu seorang penjaga dengan tambahan tips 5 euro akan menemani selama perjalanan naik atau menuruni tebing.Tetapi hal itu sepertinya berubah ketika saya menuruni Fira minggu kemarin.Berpapasan beberapa kali dengan rombongan turis,tak nampak satu penjagapun yang menemani mereka.
Rute saya selalu sama.Naik ke Fira dengan cablecar dan turun kebawah lewat jalur keledai.Sekali pernah saya mencoba hiking dari Fira Skala(dermaga lama Fira) ke atas.Jarak dari bawah diukur tegak lurus adalah 270 meter dengan 580 buah anak tangga.Tidak terlalu curam seperti di Sorrento,Italy.Terlalu landai malah.Didesain zigzag sampai atas dan dengan kemiringan sekitar 30 derajat justru membuat jarak tempuh seakan bertambah tiga kali lipat.Satu anak tangga kadang membutuhkan dua tiga langkah melaluinya.Belum ditambah kotoran keledai disana-sini berceceran dari atas sampai bawah membuat langkah terlompat-lompat dan harus ekstra waspada.Stamina dan endurance ditengah cuaca panas sangat dibutuhkan.Belajar dari situ,saya memilih ketika turun saja mengambil jalur keledai.Seru sebenarnya jika berkeledai ria.Seperti menunggang kuda didaerah Gunung Lawu.Namun terkadang sang tunggangan mogok dan ngambek ditengah jalan.Dibelai-belai dan dirayu macam apapun dia tak bergeming.Beberapa ada yang lebih parah.Setelah lebih dari separuh mendaki,malah berbalik arah dan kembali turun.Si penunggang diatasnya cuma bisa tertawa jengkel.Menggelikan.
Dari jalur keledai,view kearah lautan dengan tiga pulau ditengah Santorini terlihat jelas.Begitu juga dengan bukit-bukit disebelahnya.Terasa aneh sebenarnya ketika melewati jalur keledai sementara di sebelahnya enam gerbong cablecar berkali-kali melintas.Seolah meledek para pelancong yang memilih jalur keledai.Sebenarnya,bercablecar ria pun juga suatu pengalaman tersendiri Apalagi jika kita mengidap phobia ketinggian.
Tiket sekali jalan cablecar untuk umum adalah 4 euro.Namun dengan menunjukkan ID,saya hanya perlu membayar seperempatnya.Harga spesial ini juga berlaku disetiap moneychanger,dutyfree pelabuhan dan beberapa toko dan butik di Greek dan beberapa negara eropa.
Sensasi cablecar  baru terasa jika duduk digerbong paling bawah.Dari situ view kearah dermaga lama tidak terhalang deretan gerbong lain.Ditambah dengan getaran dan suara gesekan roda penarik gerbong,setiap orang yang baru pertama kali menaiki cablecar pasti sedikit jantungan.Berbeda dengan cablecar di Barcelona atau Peak Tram di Hong kong yang notabene horisontal,cablecar Fira memiliki kemiringan lebih dari 60 derajat dan sangat curam.Dengan satu gerbong berkapasitas 6 orang dan selang waktu tempuh yang kurang dari 10 menit,pantaslah jika setiap pelancong memilihnya.Antrian mengular dari cablecar station sering luber hingga ke dermaga di peak season.Setiap orang seolah berebut demi mengejar waktu untuk menikmati Fira lebih lama.Rela berdiri dihajar mentari.
Padahal jika dilihat dari sisi memorablenya,saya yakin berkeledai ria atau berjalan turun menyusuri jalur keledai dipetang hari sebelum sunset akan lebih membekas dihati.Sebuah ironi,mengingat keledai adalah ikon Santorini.
Begitulah..terkadang  demi mengejar efisiensi dan destinasi, kita lupa bahwa sebuah journey hadir untuk dinikmati.

image

Old market di Skala Fira,pintu masuk kearah jalur keledai

image

Lorong jalur keledai yang lengang

image

Tarif resmi keledai

image

Para penjaga keledai,acuh dan selalu memalingkan wajah jika difoto

image

Antrian keledai di lorong bawah

image

Antrian keledai dijalur atas

image

Donkey path

image

Donkey path yang sepi

image

Segelintir turis yang bernyali adventure

image

Jalur atas

image

Minggir dai! Ogut mau lewat!

image

Duh..lewatnya gimana -.-'

image

image

View dari jalur keledai

image

image

image

Keledai yang ngambek ditengah jalan

image

Diketawain dari cablecar.Asem!!!

image

Jalur cablecar dari jalur keledai

image

Jentrek-jentrek ngebaki dalan

image

Helo fe! :p

image

Skala Fira / dermaga lama

image

Cablecar stasiun bawah

image

Roda penggerak cablecar

image

Masss..enteni masss!!!

image

View dari gerbong belakang.nea kameni dan paleia kameni terlihat jelas

image

Papasan dengan cablecar yang turun

image

Ukur sendiri dah berapa derajat miringnya

image

Nea Kameni dan Paleia Kameni

image

Rodanya ga cuma satu..ya iyalah ^ ^'

image

View samping kiri

image

View samping kanan.ntu yacht ogut dibawah!

image

Nyampe diatas

image

Stasiun atas

Note :
-beberapa travelblog mengkritisi perlakuan para penjaga dan pemilik keledai yang meng-abuse hewan piaraannya.
-sebuah petisi dari beberapa yayasan penyayang binatang berlokasi di Inggris pernah dibuat beberapa tahun silam,menuntut perlakuan yang lebih manusiawi terhadap keledai di Santorini.
– beberapa keledai sengaja menggesekkan punggungnya ke dinding pembatas jalur mengakibatkan cidera ke beberapa penunggangnya,beberapa ahli mengatakan tingkah ini disebabkan gatal akibat luka-luka sabetan dari penjaga keledai.
-ketika beberapa website menganjurkan untuk tidak memakai jasa keledai dalam rangka aksi boikot menuntut perhatian lebih terhadap kekerasan pada keledai,para ahli sosial dan ekonomi berkesimpulan bahwa kesenjangan ekonomi dan kecilnya bayaran yang diterima antara penduduk lokal dan pendatanglah yang menjadi sebab utama.
-info mengenai sejarah keledai dan cablecar di Santorini ada di http://www.santorini-donkeyunion.com dan http://www.scc.com (santorinicablecar)
-referensi DK Eyewitness “the greek islands” ; Lonely Planet ” Discover Greece” ; http://www.donkeysanctuary.org ; http://www.tripadvisor.com ; http://www.cruisecritic.com ;penduduk lokal dan pengalaman pribadi.
-semua gambar koleksi pribadi hasil editan asal menggunakan pics art studio diambil dengan samsung galaxy mini dan samsung galaxy core.
-next post → mblayang greece → Rumah Ketiga : Water And The Blue Water ( Fira, Santorini)

image

Leonardo dee caprio

Advertisements
Categories: mblayang greece | Tags: , , | 12 Comments

Post navigation

12 thoughts on “Rumah Ketiga : Ironi Tebing Sunyi ( Fira,Santorini )

  1. aduhh pengen banget bisa kesini huuhuhu

  2. Cosmic Bookworm

    Wow!!!

  3. wow, liat fotonya bikin jantungku rushed beating….wkwkwkw
    gak kebayang gmn ngerinya nurunin tangga naik keleday….
    tp pemandangannya indah bgt ya…

  4. Mas foto2-mu ini bikin gak sehaaaat….dadi mupeng tiada tara haahaha

  5. Setuju sama mbak Yusmei bikin kadar kesirikan di dada mencuat. Gak baik buat badan *efeknya jadi lapar* hahaha.

    Mas, keseringan berada di Yunani jadi bisa baca tulisan mereka, gak? #kepo

  6. pic trakir. penulisnya mengganggu keindahan panorama di belakangnya!!! *ampuuun haahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: