Being A Safety Person

Saya pernah beradu argument dengan penjaga sekolah anak saya.Alkisah untuk menjaga anak-anak tidak kabur dan main keluar area sekolah maka pintu gerbang depanpun dirantai dan digembok selama mata pelajaran berlangsung.Hanya dibuka ketika jam istirahat dan pulang  sekolah.Gedung sekolah anak saya berlantai dua dan berbentuk U dengan secuil halaman ditengah.Tak lebih 50 meter persegi dengan gerbang yang langsung keluar kesebuah jalan kampong,Selain gerbang tersebut,terdapat juga sebuah lorong panjang berkelok bercabang dua yang menuju bangunan SMP disebelah kiri dan masjid yayasan serta TK disebelah kanan.Ketika itu saya hanya menyarankan agar pintu gerbang jangan dikunci,cukup ditutup saja.Ketika ditanya mengapa,saya mencoba menjelaskan bagaimana jika terjadi gempa atau kebakaran dan jalur evakuasi terdekat satu-satunya yaitu pintu gerbang malah terkunci.Iya kalau penjaganya sigap dan gembok langsung dibuka.Bagaimana jika kuncinya ketlisut(keselip) atau penjaganya malah ngewel kebroh kopoh-kopoh ketimbang bukain gembok atau yang lebih parah lagi,penjaganya menjadi korban?.Penjaga sekolah tersebut malah terbahak.”Mase ono-ono wae”(masnya ada-ada saja) begitu katanya.Argumen yang berakhir dengan kekesalan saya karena semua penjelasan hanya dianggap metafora,mengada-ada dan berkemungkinan kecil untuk terjadi.

Sempat saya berkunjung ke ruko atas ajakan seorang teman.Mempunyai rejeki lebih dia berniat hendak membeli salahsatu dari ruko tersebut.Deretan ruko mewah bertingkat tiga dengan lahan parkir yang luas dikawasan elit Cikarang.Dengan bangga teman saya mengajak masuk karena kunci sudah ditangan.Istilahnya sudah 50-50.Sebuah tangga menghubungkan ketiga lantai dengan masing-masing lantai berjendela kaca tebal.Bagus,mewah,murah dan kelihatannya nyaman.Selain pertanyaan umum seperti berapa daya listriknya,SHM atau HGB,NJOP,luas bangunan,kualitas air dsb,ketika saya bertanya letak tangga darurat,kawan tersebut malah bengong.”ra perlu! (nggak butuh)” begitu katanya.Dan dia bungkam ketika saya menanyakan berapa akses keluar masuk ruko tersebut,adakah “pintu lain”/alternative exit selain pintu depan ruko tempat kami masuk,bagaimana system pemadam kebakarannya,adakah ventilasi terbuka didapur jika ada kebocoran gas,kemana dia lari jika ada kebakaran dilantai dasar sedang dia terjebak dilantai atasnya,tahukah dia berapa kasus yang terjadi ketika sebuah ruko terbakar dan penghuninya harus lompat dari lantai dua atau meregang nyawa didalam kamar mandi karena menghirup asap api,sedangkan tangga darurat tidak tersedia.Bagus,mewah,murah belum berarti aman!begitu semprot saya.Lain hari,kawan tersebut bersms mengabarkan bahwa ruko tersebut urung dibelinya plus embel-embel “takonmu neko-neko nanging ono penere”.

Mencoba menerapkan prinsip keselamatan ketika dirumahpun  saya lakukan.Dari sekedar menjaga jalinan kabel listrik dan komputer yang acak-acakan,merapikan ranting pohon yang menyentuh SUTET,memindahkan perabot yang sekiranya menghalangi jalan-jalan keluar masuk rumah,atau sekedar memberitahu pentingnya keselamatan kepada anak-anak. Paranoid???.. bukan. Usia,jodoh dan rejeki saya percaya sudah diatur.Tetapi musibah yang bersumber dari kelalaian,ketidaktahuan dan keacuhan sangat disesali karena musibah tersebut bisa dicegah seandainya kita mau untuk sedikit lebih peduli,sedikit lebih berkorban materi atau sedikit lebih kritis.Dunia internasional sudah menerapkannya dalam berbagai bidang,Indonesiapun juga.Bagaimana dengan kita selaku individu? Cobalah lihat sekeliling kita,rumah kita,gedung tempat kita bekerja,supermarket tempat kita berbelanja atau moda transportasi yang kita pakai,bayangkan kemungkinan terburuk apapun yang bisa terjadi,fasilitas emergency apa saja yang tersedia,lalu bayangkan apa yang bakal kita lakukan (dalam kondisi panik)ketika kemungkinan terburuk itu terjadi.

Saya juga bukan manusia sempurna.Ketika terjadi gempa di Klaten beberapa tahun silam.Kota tempat saya tinggalpun terkena imbasnya.Malam ketika gempa terjadi,saya tergeragap bangun dan langsung lari keluar rumah.Butuh beberapa detik untuk mencerna dan langsung kembali kedalam menyambar putri saya yang masih pulas tidur.Tetangga lain lebih parah lagi,satu rumah berebutan melompati pagar gerbang karena lupa kuncinya didalam dan takut untuk mengambilnya.Dua pelajaran yang saya dapat : dalam keadaan panik,kita lebih susah mengontrol diri serta berpotensi membahayakan orang lain.Dan bahwasanya pagar mangkok itu masih lebih ampuh daripada pagar tembok.

Bagaimana ketika anda sedang travelling?beberapa kali blogwalking,saya mendapati traveler-traveller yang terbilang nekat.Menceritakan serunya bergelantungan diangkot,berjejalan dibak terbuka naik turun jalan gunung atau menyusuri gua dengan peralatan minim.Seru? pasti. Aman?belum tentu. Alam bukan mainan yang bisa diajak berkompromi.Kitalah yang “wajib” berkompromi dengan alam.Begitu juga ketika kita sedang travelling,hanya demi mengejar kata “seru”,”menegangkan “dan “asyik”,perihal keselamatan dikesampingkan.Meluangkan waktu (dan kadang biaya) sedikit demi aspek keselamatan tidak ada salahnya.Contoh paling simple adalah menyempatkan diri anda melihat adakah palu pemecah kaca jendela dalam bus yang anda tumpangi atau mengusahakan tidak menaruh barang disela kaki dan koridor bus (access clearing).Sempatkan diri anda melihat dengan detil cara membuka emergency exit door didalam pesawat dan raba pelampung yang ada dibawah seat,yakinkan dimana pintu keluar terdekat dari seat anda.Ketika menaiki sebuah kapal,apapun jenis kapal itu,ingatlah dimana letak pelampung anda,dan pastikan kru kapal  memberitahu cara memakai pelampung(donning lifejacket),lokasi dimana anda harus berkumpul jika ada kecelakaan(mustering) dan titik terendah(lower point) dari kapal tersebut ke air,jika sekoci(lifeboat) tidak bisa digunakan dan anda terpaksa harus memasuki air.Hak anda untuk tahu dan kewajiban pengelola moda transportasi untuk menyediakan dan memberitahu.

Menganggap kecil hal-hal seperti itulah yang membuat risiko terjadinya korban dalam suatu kecelakaan membesar.Anda tentu ingat ketika pesawat sebuah maskapai Asia terbakar baru-baru ini disebuah bandara di Amerika.Tingginya standar keselamatan didunia penerbangan dan baiknya pengenalan jalur-jalur penyelamatan (safety induction of escaping in emergency case) mampu menekan jumlah korban jiwa.Anda bisa bandingkan sendiri antara kasus Titanic seabad lalu dengan kasus kandasnya salahsatu kapal pesiar di Italy awal tahun 2012 kemarin .Dalam tempo 1,5 jam,nyawa 1500 orang lebih penumpang Titanic melayang.Dalam kasus Italy,dari tumbukan pertama dengan karang(collition) hingga miring (listing) dan kandas(grounding) dalam waktu 3,5 jam,lebih dari 4,200 nyawa berhasil selamat dengan korban jiwa hingga postingan ini ditulis ” cuma ” berkisar 32 orang.Kasus Italy inipun terjadi karena human error dan prosesi penyelamatannya melanggar berbagai standar prosedur evakuasi.

Saya percaya kita semua menyukai perjalanan.Merasakan syahdunya sebuah petualangan.Menyentuh suasana baru yang penuh makna,dan mencoba memaknainya dalam hari kita.Makna yang  tersingkap dari sebuah perjalanan yang seru,menegangkan,berkesan… dan aman..

Happy safe travelling ,salam lestari

Note:

  • PSSR atau Personal Safety and Social Responsbilities merupakan satu dari 4 point dalam Basic Safety Training Courses and Certification yang disesuaikan dengan Standards of Training and Certification of Watchkeeping (STCW-95) dan International Safety Management (ISM) Codes, merupakan “basic minimum entry level certificate”  seafarer atas rekomendasi International Maritime Organization(IMO)
  • 3 point lainnya adalah Fire Prevention and Fire Fighting(Basic Fire Fighting),Basic First Aid dan Personal Survival Techniques(PST)
  • Fire Fighting Advance(FFA),Crowd Control Management(CCM) dan Personal Survival Techniques Advance(PSTA) merupakan advance knowledge skills kelanjutan dari 4  basic entry point level diatas.
  • selain seafarer,beberapa badan dunia internasional mewajibkan profesi-profesi yang berhubungan dengan keselamatan public(ie:pilot,pramugari,firefighter,pekerja tambang,dsb)  untuk melakukan latihan berkala(training drill) demi menjaga safety awareness dan meminimalisir the risk of accident caused by human error.
  • Pager mangkok lebih kuat dari pagar tembok adalah pepatah jawa yang secara harfiah berarti saling memberi dengan tetangga sekitar lebih menguatkan solidaritas,silaturahmi dan keamanan dari sebuah kampung
Advertisements
Categories: ngroweng | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Being A Safety Person

  1. sekolah jaman sekarang memang terlihat seperti penjara dengan ruang bermain yang sangat sempit. too bad right?!

    • Iya mbak.dengan alasan yg penting konten pendidikan kadang mrk ga peduli bahwa ruang belajar dan interaksi tidak hanya dikelas saja.faktor safety malah tidak terpikir samasekali 🙂

  2. salam kenal :3 terima kasih pencerahannya, mulai memikirkan juga maunya rumah nanti bagaimana

  3. cosmicbookworm

    Coba kalau argumennya pake embel-embel kayak “nanti susah jodoh”, atau “pamali”, kayaknya langsung digubris deh gerbang sekolahnya gak digembok hihihi.
    Memprihatinkan ya, padahal Indonesia “rajin” disinggahi gempa bumi. Mungkin belum trendy “sayang nyawa” disana, saya inget banget dulu sering was-was sendiri setiap lebaran liat jalur mudik dipenuhi pemudik pake motor, bawa ransel + anak2 & istri (dlm satu motor), perjalanan berjam-jam di jalur yg dilalui bus-bus antarkota pula. Anak-anak seringnya gak dikasih helm. 😦

  4. Kemaren telp pas lebaran,adik saya mudik juga begitu.disemprot habis2an ama simbok. -.-‘ sometimes it sound silly,people just want to show off but ignoring the main purpose.to be at home,safe and sound

  5. Logika bodohnya mungkin karn savety is not always save,
    sgala sesuatu kan ada konsekuensinya, single gate= aman=potensi bahaya,
    makanya ruko kakakku dikasih tempat lari yg bisa dibuka dgn skali pencet klo kebakaran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: