Copet Jakarta

Dua hari silam,saya menjumpai modus mencopet lawas yang termasuk baru di mata saya. Kebetulan saya sendiri menjadi korbannya.
Dimulai dari perjalanan saya menuju ITC Fatmawati dari terminal Lebak Bulus. Pagi menjelang siang sehabis turun hujan,dan saya sedang menunggu Metromini S79 Lebak Bulus-Blok M. Hanya ada beberapa penumpang ketika saya masuk dan duduk di bangku paling dekat dengan pintu depan. Itu adalah posisi bangku paling praktis bagi saya yang sering kelewatan mengenali tempat tujuan.
Seorang bapak berkemeja putih mencangklong ransel didepan dada duduk disamping saya. Insting saya sudah merasa aneh mengingat banyak bangku kosong didalam bus. Posisi saya sekarang terjepit antara besi pembatas dengan pintu depan sedang disebelah saya ada duduk bapak-bapak berumur limapuluhan tersebut. Tak lama bus mulai berjalan pelan dan seorang bapak berpotongan cepak membagikan brosur pijat refleksi kepada kami.
Keanehan kedua,brosur itu hanya dibagi kepada kami. Bapak tukang pijat itu lalu mulai berpromosi sambil memijat tangan kiri bapak disamping saya. Kemudian dia meraih tangan kanan saya dan mulai memijatnya. Otomatis ini membuat posisi ransel bagian kanan saya (yang juga saya cangklong didada) lowong tidak terjaga. Ketika tangan kanan saya dipijat, ada sedikit hentakan terasa di lambung kanan. Dan tubuh bapak disamping saya agak miring kekiri mendesak saya.
Keganjilan berikutnya terjadi ketika selesai memijat, bapak tukang pijat itu menarik kembali brosur yang saya pegang dan tergesa-gesa turun. Bapak-bapak kantoran itu juga buru-buru menyusul turun dari pintu belakang. Posisi bus saat itu sedang berbelok kekanan dari perempatan Pasar Jumat masuk ke jalan Pondok Pinang Raya.
Ketika saya mengecek ransel saya,kantong resleting sebelah kiri sudah terbuka dengan kepala resleting yang jebol. Saya memakai sweater bertudung saat itu,dan sebungkus rokok beserta lighternya saya taruh di saku kanan. Rokoknya lenyap tinggal lighternya.
Syukurlah karena total kerugian saya hanya beberapa batang rokok. Jika berpergian, dompet dan hape selalu ada di kantong celana depan. Agak risih memang, tapi untuk kesekian kalinya cara itu berhasil menyelamatkan saya.
Tergelitik dengan aksi para copet itu, saya lalu turun dan berjalan kembali ke perempatan. Jika ada yang bilang orang-orang Jakarta itu indivualistis, saya berani bilang anggapan itu sangat subyektif. Terbukti ketika saya meminta tolong kepada beberapa tukang ojek yang mangkal di perempatan. Bersama mereka, saya mendapati dua copet itu hendak menaiki angkot ke arah Ciputat. Sempat terjadi saling dorong dan alphamale chaos. Saya tahu barang bukti sebungkus rokok sangat tidak berguna, bahkan terkesan mengada-ada. Mungkin juga karena adrenalin saya sedikit terpacu dan ingin melampiaskan dalam bentuk bentrok fisik. Yang jelas saya sempat berpesan ke abang-abang tukang ojek itu untuk menghafal wajah mereka sebelum melepasnya pergi. Perkara ini tak pernah sampai ke pihak yang berwajib, namun setidaknya para copet itu lebih gentar untuk beroperasi di daerah tersebut.
Berikut analisa amatir saya dari kasus copet tukang pijat tersebut :
– Suspect berjumlah lebih dari satu, satu sebagai pengalih perhatian,yang lain sebagai eksekutor
– Bus yang dipilih cenderung sepi penumpang, menghindari di amuk massa jika ketahuan
– Cara berpakaian eksekutor sangat rapi bagai pekerja kantoran
– Medan operasi yang terhitung dekat dengan evacuation route yang mudah dicapai. Dalam kasus saya, jarak antara Terminal Lebak Bulus dengan perempatan Pasar Jumat bisa ditempuh kurang dari sepuluh menit.
– Ketika tangan kanan saya diangkat untuk dipijat, tangan kanan bapak disebelah saya menyelusup diantara ransel didadanya dan mulai beraksi. Tubuh yang miring dibuat seolah-olah mengikuti gerakan bus.

image

Saku ransel dan kepala resleting yang jebol

Bukan modus yang baru memang, tapi ketika mengalaminya sendiri mau tak mau segumpal pelajaran berharga terpaksa kita telan bulat-bulat.

Karawang,170115

Categories: Uncategorized | 9 Comments

Cumi Asia

Selama di Eropa saya jarang jajan di luaran. Paling-paling beli gyros di Santorini atau kebab di Kusadasi. Makanan berat terakhir saya rasakan ketika jalan bareng teman-teman di Sorrento Mei silam. Ketika akhirnya kami sampai di Singapore awal desember kemarin, godaan untuk mencecap nasi padangpun tak dapat dibendung. Dan berturut-turut setelahnya,Langkawi,Penang,Phuket,Koh Yao Noi,Lumut,Port Klang,Melaka,di semua persinggahan itu saya menyempatkan turun dan memuaskan nafsu asia saya.
Terbiasa dengan euro dan dollar memang benar-benar membuat kami kalap belanja dan makan-makan. Di eropa, sekali jalan untuk sekedar ngopi minim 10 euro keluar kantong. Di asia dengan uang segitu kami sudah makan besar berlauk udang.
Di downtown Phuket,tepatnya didepan Robinson,berjejer warung tenda dengan segala jenis masakannya. Ada satu kedai yang menawarkan cumi panggang seharga 80 bath pertusuk. Murah sekali. Otak saya masih mengkomparasikannya dengan harga masakan eropa. Saya tak mencobanya karena tidak begitu doyan cumi. Disamping penjual cumi,ada penjual khanom khrok. Penganan yang dicetak bundar dan kecil dengan rasa manis dan lembut mirip serabi. Jujur saya habis delapan biji. He..he..he..
Teh thailand yang dicampur susu pun saya sambar. Agak-agak eneg memang,tapi lumayan juga jika dicampur es.
Untuk saya pribadi, berlayar di Asia adalah sebuah rendezvous. Tiga tahun pertama dalam karier nomaden saya dihabiskan di Asia. Banyak yang berubah,namun citarasa saya tetap sama.

image

Cumi panggang

image

Baunya aduhai

image

Mengambil adonan yang sudah matang

image

Khanom khrok siap saji

image

Must try!!

Categories: Uncategorized | 7 Comments

Kapten Amerika ala Malaysia

image

Kapten Amerika ala Malaysia

Saya bertemu dengan Kapten ini di Melaka,Malaysia,sehari sebelum saya pulang ke Indonesia. Tak sempat mengorek keterangan lebih lanjut. Hanya menyapa,bercakap sebentar tentang Honda Triumphnya dan minta ijin untuk mengabadikannya.
Kapten ini dengan terang-terangan berkata “Lima ringgit Pak Cik,boleh ambil gambar”.
It’s fine by me. Tapi rekan-rekan saya (saya berempat waktu itu) heran dan sedikit menolak. Saya sendiri maklum. Tidak murah untuk memelihara sebuah triumph dengan pernak-pernik eksentriknya. Dan jujur saya salut dengan mental pengembara dan keterusterangan Pak Cik ini.
Cuman satu gambar yang saya ambil. Ketika lembaran lima US saya sodorkan, dia sumringah. Dia juga heran karena saya tak mau diambil gambarnya.
Anyway,good luck Captain. Have a safe journey!

Categories: Uncategorized | 19 Comments

Unedited #16 Mata Setan

Hampir satu dasawarsa hinggap di Turki dan Yunani , baru tahun ini saya tahu arti dari Nazar Boncugu. Di kedua negara tersebut jamak ditemukan souvenir di kios-kios berbentuk mata atau tetesan air mata berwarna biru, biasanya dijadikan bandul atau gelang bahkan gantungan kunci. Produksi massal souvenir ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat lokal bahwa seseorang dapat terkena musibah karena tatapan orang lain yang berniatan buruk terhadapnya.
Kepercayaan yang jika diurutkan ke belakang  berasal dari negara-negara timur tengah ini lalu diwujudkan dalam bentuk jimat atau amulet berbentuk mata sebagai penolak bala dan penangkal sihir.
Saya sedikit bersyukur karena mata saya tidak biru, karena orang yang bermata birulah yang pada jaman dahulu jarang dijumpai di Turki yang dipercaya sebagai pembawa sial. Itu juga sebabnya mayoritas souvenir berwarna biru sangat dominan.
Meski kepercayaan ini sendiri mulai pudar, namun jimat ini masih laris di kalangan wisatawan. Cukup dengan 3 euro, sebuah bracelet cantik bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Jika ada yang berniat mencari jodoh bermata biru, mungkin jimat ini malah bisa membantu.

image

Bracelet

image

Gantungan kunci

image

Nazar boncugu

image

Captured w/S4, resized unedited
Kotor, Montenegro 300914

Categories: pure shot! | 17 Comments

Unedited #15 Gigi Singa

Dua kuntum taraxacum yang saya temui di pinggir jalan utama Katakolon tadi mengingatkan tentang Copenhagen tiga tahun silam. Berlari kegirangan menemukan sebuah lapangan penuh dandelion bermekaran di samping benteng Kastellet, sebuah benteng luas berbentuk segi lima dengan parit lebar disekelilingnya. Saya merengek pada teman agar difoto dengan pose seorang supermodel. Tidur terlentang, menatap langit, diantara bunga-bunga kuning. Pasti keren, begitu pikir saya. Sang teman yang memang tidak bernaluri tukang foto enggan untuk ikut rebahan. Hanya menaruh kamera di tanah dan main jepret.
Hasilnya seperti jajaran hutan kuning dengan latar perut saya yang – saat itu namun sekarang tidak – sedikit buncit. Langsung saya hapus.
Gumpalan floret dandelion sering di ibaratkan sebagai bulan dan floret yang beterbangan adalah bintang. Ketika mekar sempurna dandelion tampak seperti matahari. Masyarakat disini menyebutnya kleftis, yang berarti pencuri karena sekali terbang susah untuk menangkapnya. Ibnu Sina bahkan pernah menulis sebuah bab dengan judul tarasocon. Tentang kegunaan taraxacum dalam dunia pengobatan.
Ketika dunia pengobatan modern menaruhnya dalam daftar rumput liar yang berguna, dandelion bagi sebagian kita turun kasta menjadi gulma yang harus dibasmi, kadang dikencingi

image

Taraxacum officinale

image

Bakal dandelion

Captured w/ S4, resized unedited
Butrint, Albania 270914

Categories: pure shot! | 5 Comments

Masuk masjid di Constanta

Moschea Maree Mahmud II, The Great Mehmediyah Mosque atau King Carol I Mosque. Tiga alias tersebut adalah nama sebuah masjid bersejarah di kawasan old town Constanta, Romania. Mengutip sebuah review di trip advisor “Most interesting was that it was a Christian King who funded the original building here over a 100 years ago. Wonderful views from the top of the Minaret.”

image

Carol I

Persinggahan ke empat di Constanta, dan baru dua kali saya blayangan. Romania menjadi negara baru dalam daftar negara yang pernah saya jajagi. Setelah pantai Mamaia, tujuan saya di siang awal september itu adalah Piata Ovidiu. Piata boleh diartikan sebagai square atau alun-alun (piata/placa/plaza). Ovidiu diambil dari nama pujangga romawi Ovidius Publius Naso. Patung Ovidiu berdiri membelakangi Museum Arkeologi Nasional Romania, menghadap laut hitam.
Yacht selalu menyediakan shuttle jika kami bersandar agak jauh dari kota. Tentu saja gratis. Hanya lima menit dibutuhkan minivan yang saya tumpangi untuk sampai di Boulevard Ferdinand,jalanan dibawah Piata Ovidiu. Lokasi alun-alun memang lebih tinggi dari jalan, dipermudah dengan akses tangga yang tidak terlalu terjal.
Diyakini berdiri tepat diatas bekas kota Tomis, di kebun-kebun dibawah alun-alun banyak dijumpai situs arkeolog, semua terdata dengan rapi dan diberi plakat. Museum Arkeologi yang menempati bekas balaikota menjadi jantung alun-alun. Disampingnya terdapat taman terbuka mendisplay beberapa peninggalan Tomis. Sarkofagus,tempayan raksasa, dan pilar pilar dengan inskripsi romawi berjajar rapi diantara mekarnya bunga-bunga taman. Saya membayangkan jika hal ini dilakukan di Indonesia boleh jadi tak ada sebulan artefak artefak kuno itu bakal hilang dicuri, atau di corat coreti.

image

Museum Arkeologi dan taman terbuka

image

Ladang dibawah alun-alun


image

Sarkofagus


image

image

Deretan kotak kubur di taman


image

Bunga dan museum

image

Patung ovid depan museum

Tak jauh dari alun-alun, minaret sebuah masjid menarik perhatian saya. Sedikit memasuki jalan di ujung kawasan kota tua. Agak gentar sebenarnya ketika melangkah kesana. Beberapa jam sebelumnya dua penumpang yacht dirampok preman di kawasan tersebut. Modus yang digunakan adalah dengan menyaru menjadi polisi dan menanyakan ID card serta visa mereka.

image

Rumah tua


image

Gedung kosong depan Casa Cu Lei

image

Carol I dari alun-alun

Suasana alun-alun memang lengang. Hanya satu dua turis dan penduduk lokal yang saya temui, di sore hari mungkin lebih semarak karena tidak seterik siang itu. Bau kotoran anjing, kepul debu dari pavlingan jalan yang belum jadi, pintu dan jendela berkeretak tersilir angin menyambut. Menyusur ujung kota tua itu rasanya bagai memasuki kota mati. Saya sengaja melewati masjid, menyimpannya sebagai tujuan pamungkas perjalanan. Belok kanan dari persimpangan di belakang masjid, Casa Cu Lei atau rumah singa tampak tegak, kusam dan seram. Seorang polisi dan anjingnya berjaga di depan pintu. Empat patung singa disetiap pilar menambah aura angker gedung itu. Kembali ke persimpangan, saya meneruskan jalan dari masjid. Di kiri kanan , rumah-rumah tua tak terawat berbaur dengan flat dan apartemen. Bisa dihitung dengan jari rumah yang tampak ditinggali. Semua tampak sepi, senyap. Di ujung jalan,Katedral St Paul and Peter tampak megah dan agung. Disampingnya, lagi-lagi sebuah situs arkeolog terhampar, sebelum berakhir di pagar pembatas dengan jalanan dibawahnya.

image

Casa Cu Lei


image

Katedral St Paul and Peter

image

Situs disamping Katedral

Perasaan tak nyaman yang hinggap dihati selama menelusup kawasan tersebut hilang ketika memasuki gerbang Masjid Carol I. Empat kakek-kakek yang sedang bercengkrama di beranda kanan masjid bangkit dan membalas salam saya. Konter tiket di sebelah kiri dijaga seorang ibu paruh baya. Halaman masjid sangat kecil, mungkin hanya sanggup menampung tiga buah mobil. Pot pot gantung dengan bunga beraneka warna menghiasi kedua beranda. Menyelipkan warna cerah dan asri ditengah dominasi abu-abu kusam. Dua meja kayu dan bangku panjang terletak di depan tempat wudhu diberanda kanan. Bayangan minaret tepat meneduhi halaman. Menariknya, di sebelah kanan pintu masuk masjid, berdiri replika Al Qur’an dari pualam. Terbuka pada lembar surat Al Fatihah dan awal surat Al Baqoroh, lengkap dengan terjemahan bahasa Romania dan Inggris dibawahnya.

image

Gerbang Masjid

image

Menunggu lohor


image

Al Qur'an dari pualam

image

Teduh dan asri

image

image

Halaman masjid

Setelah sedikit berbahasa monyet, saya baru tahu tidak ada peraturan khusus untuk memasuki masjid. Boleh bersepatu sampai rantai pembatas di dalam masjid. Celana pendek tidak masalah, tidak berkerudungpun tak apa. Asal sopan dan tidak naik ke minaret ketika adzan dikumandangkan. Semua larangan yang wajib hukumnya untuk masjid-masjid di Turki ternyata tidak berlaku disini. Tiket masuk seharga 3 Lei juga bisa ditebus dengan 1 euro. Pelajar dan mahasiswa cukup membayar 2 Lei. Di musim panas, jam buka masjid untuk turis dari pukul 8 pagi hingga 8 malam. Selebihnya masjid ditutup pada pukul 5 sore.
Memasuki masjid, duduk dikarpet yang konon terberat seeropa ini, saya merasa sedikit kikuk. Di yacht, kiblat bagi saya berarti menghadap tivi didalam kabin. Tak peduli yacht menuju utara, selatan atau tenggara, kiblat bagi saya ada di niat hati. Warna biru bagian dalam kubah setinggi 25 meter sekilas mengingatkan tentang kubah kubah gereja di Oia. Mimbar kayu tinggi penuh ukiran, tempat imam yang artistik menambah syahdu suasana.
Saya baru sadar betapa berat tugas seorang muadzin ketika mendaki tangga terjal meliuk bagai ular ke puncak minaret. 5 kali sehari,140 anak tangga, setinggi 47 meter…fuuh.. ditengah jalanpun saya sempat bertanya pada diri sendiri berapa kilo berat badan saya sekarang.
Pemandangan dari minaret memang menawan. Sepadan dengan peluh bercucuran yang segera sirna dihembus semilir angin. Port of Constanta, laut hitam, Katedral, alun-alun dan museum, semua terhampar di puncak tertinggi Constanta. Insting saya bilang sunset view dari minaret pastilah menawan. Dan saya tersedak, belum ada satu jam ibu penjaga konter tadi memberitahu tak boleh naik ke minaret di waktu adzan. Ah saya memang pelupa.
image

image

Ukiran perunggu di pintu masjid

image

Mimbar dan mihrab


image

Dome setinggi 25 meter

image

Menuju minaret


image

Piata Ovidiu

image

Port of Constanta

image

Black sea

image

image

Carol I

Note:
– Carol I didirikan tepat diatas pondasi bekas masjid Mahmud yang lama.
– ada satu masjid lain di Constanta, masjid Hunchiar yang didirikan Sultan Abdulaziz di tahun 1868.
-semua gambar tidak sempat diedit ^.^
Santorini-Chania 21/220914

Categories: mblayang romania | 6 Comments

Lisbon Punya Halte

Sudah empat malam berturut – turut saya dan geng blayangan ke Oriente, stasiun terpadu dikawasan selatan Lisbon. Terpadu karena ada subway di jalur bawah, terminal bus dibelakang, kereta antar kota diatas dan tembus ke Vasco Da Gama mall dilantai dasarnya.

image

Oriente, dibawah jalan ini adalah lantai dasar mall

image

Ke bawah menuju subway dan mall

image

Nggak kebayang dibawah jalan raya ini ada mall

image

image

Koridor subway

image

Vasco da Gama mall.

Jjs, makan dan wifi di mall harus. Mall besar yang tembus ke promenade di pintu belakangnya ini hanya berlantai tiga. Satu atas, satu sejajar bumi, satu dibawah bumi. He..he.. bahasanya aneh ya?
Kalau dibandingin dengan Solo Grand Mall memang nggak ada apa-apanya. Tapi isinya bo! Mau cari Sephora, Zara, Bershka, Geox, Springfield, Levi’s, pokoknya komplit. Saya sendiri ga doyan shopping, capek dikaki. Gara-gara maminya genduk minta dibeliin jaket ya kepaksa muter-muter di mall. Jaket difoto, kirim, nggak suka. Foto, kirim, nggak cocok warnanya. Jadi ya sudah empat malam ini kerjaan saya di mall jadi tukang foto jaket -.-‘
Hmm..ini malah bahas mall. Sebenarnya saya mau nulis soal halte di Lisbon. Di opo onone ada foto tentang board penunjuk waktu berapa menit kita harus menunggu bus yang datang. Tidak semua halte mempunyai board digital yang terhubung dengan GPS bus yang kita tunggu. Lalu bagaimana kalau kita ingin tahu berapa lama lagi bus itu tiba?
Di halte bus Lisbon, selain terdapat peta dan timetable bus, ada cara lain yang bisa dipakai. Yaitu dengan sms ke nomer hotline perusahaan bus itu.

image

Caranya sih mudah. Cukup tulis kode halte dan sms ke nomer 3599. Kode halte tempat saya menunggu bus 728 balik ke Cais de Sodre adalah C 02511, disamping Tivoli Hotel. Selain kode, setiap halte juga mempunyai nomor sendiri. Sangat membantu ketika kita membaca peta dihalte dan menentukan jalur perjalanan berikutnya.
So, sewaktu saya didalam mall dan ingin tahu berapa lama lagi bus 728 akan lewat, saya tinggal sms ke nomer tersebut. Balasan sms itu akan berisi berapa menit lagi semua jalur bus dihalte itu akan lewat. Simpel dan sangat membantu. Gratis tentu saja jika simcard anda lokal Portugal (optimus, vodafone, tmn, lyca).

image

Nomor halte

image

Kode halte berwarna biru. Nomor halte berwarna merah

image

Semua keterangan ada dipeta (bhs inggris dan portugal)

image

Soal fasilitas didalam bus juga bagus. Disetiap jendela ada palu pemecah kaca. Ada empat kursi berwarna merah khusus untuk difable. Pegangan tangan banyak. Tombol stop ada dimana-mana. Sebuah CCTV dengan dua lensa terletak ditengah-tengah bus. Sopir juga bertindak sebagai kondektur. Bayar pakai cash atau tinggal menempelkan kartu bulanan ke scanner juga bisa. Pokoknya jauh lebih lengkap dibanding busway.

image

Selain bus dalam kota, saya dulu juga sering bolakbalik Setubal-Lisbon-Estoril dengan bus atau kereta. Pernah saya tidur di stasiun Estoril gara-gara salah baca timetable. Pernah juga terpaksa merogoh 110 euro bayar taksi Lisbon-Setubal karena ketinggalan bus. Begitulah enaknya drydock, mblayang sepuasnya dimalam hari. Meski nyesel juga karena saya tidak bisa split shift,pengennya siang bisa keluar. Main ke museum atau stadion-stadionnya Benfica, Porto sama Sporting itu. But, let’s see next week..

Naval Rocha ,221113

Categories: mblayang Portugal | 27 Comments

Jurus Nembak Number One

Mengaku pencinta musik dan gitar tanpa pernah menulis tentangnya bagai sebuah dosa besar bagi saya. Itung-itung bayar hutang, dibawah ini adalah lima lagu beraroma gitar yang wajib ada di hape saya.
Mayoritas adalah band lawas beraliran rock, herannya yang saya suka adalah lagu yang keluar dari pakem mereka.

1. Beth KISS
Single terlaris dari band amrik ini ada di album the destroyer, keluar pada agustus 1976. Siapa yang tak kenal dengan band yang selalu tampil bermake-up dengan live stage yang heboh dan gila. Lagu yang aslinya ditulis tahun 1971 oleh gitaris Stan Penridge ini dibawakan dengan manis oleh sang drummer Peter Criss. Sangat mellow, dan jauh dari kesan sangar mereka.
Begitu suksesnya Beth, membuatnya nongol dalam 14 album lainnya.
Banyak versi dan cover dari lagu ini. Dua yang saya suka adalah versi unplugged dan versi acoustic dimana Criss bernyanyi hanya diiringi petikan melodi gitar akustik elektrik dan paduan orkestra.
Setiap mendengarnya saya selalu merinding dan keronto-ronto. Beberapa penggalan syairnya seolah mampu mewakili apa yang saya rasakan. Coba tengok lirik dibawah ini.
You say you feel so empty
That our house just ain’t a home
I’m always somewhere else
And you’re always there alone
Just a few more hours and I’ll be back home to you
I think I hear them calling
Oh Beth what can I do
Beth what can I do

2. FaithfullyJourney
Lagu kebangsaan ketika saya di surf. Selalu dibawakan di closing session acara crew show. Single di album Frontiers, keluar di tahun 1983. Melegenda hingga sekarang karena kekuatan lirik yang dikandungnya. Ditulis oleh sang keyboardist Jonathan Cain,Steve Perry sedikit merendahkan suaranya jika dibandingkan dengan di Open Arms. Meski piano sangat mendominasi lagu ini, solo gitar elektrik dari Neal Schon sanggup memberikan nuansa pilu bagi setiap pendengarnya. Anyhow, this is a great song. Sebuah karya yang didedikasikan untuk keutuhan sebuah keluarga (musician) yang selalu terpisah karena tuntutan pekerjaan.
And being apart ain’t easy on this love affair
Two strangers learn to fall in love again
I get the joy of rediscovering you
Oh, girl you stand by me
I’m forever yours
faithfully…

3. Hotel California Eagles
Sumpah! Sudah hampir dua tahun saya belajar fingerings lagu ini. Dan belum berhasil😦 . Versi asli dari single yang keluar tahun 1977 menampilkan duo interplay elektrik gitar bersahut-sahutan dari Don Felder dan Joe Walsh pada epilogue lagu. Apik dan dinobatkan Guitar Magazine sebagai salahsatu solo gitar terbaik. Dan saya semakin ternganga ketika melihat video live acoustic appearance mereka dalam peluncuran album reuni Hell Freezes Over (1994). Dari intro yang bernafas flamenco dan keseluruhan harmoni melodi dua akustik gitar, sebuah akustik elektrik gitar dan bass gitar menyatu dengan tempo dari sebuah perkussi.
Cakep. Dan setiap mendengarnya saya malah tidak bisa tidur. Penasaran dengan fingeringnya. Banyak gitaris pemula berseteru tentang kunci awal lagu ini. Ada yang memulai dari Am ada juga yang Bm. Well,rumit jika dibahas. Tapi saya keukeuh dengan Bm di fret 7 ^.^

4. HonestlyHarem Scarem
Single di debut album yang berjudul sama dengan nama band mereka. Terbilang anyar jika dibanding ketiga lagu diatas (1992). Vocal Harry Hess dan gitar akustik Pete Lesperance dari band asal Kanada ini pada separuh awal lagu mengingatkan saya akan Gary Cherone dan Nunno Bettencourt (Extreme). Solo fingering yang rumit sebelum bass drum masuk sangat asyik didengarkan.

5. AsmaraNovia Kolopaking
Yap! Mbak Novia yang terkenal sebagai pemeran Siti Nurbaya itu. ^.^ Jangan salah, lagu cinta keluaran 1997 ciptaan Chossy Pratama ini penuh dengan sentilan petikan dahsyat. Jika didengar dengan baik ada dua akustik melodi bermain disana. Saling melengkapi dan sarat aroma latin. Bertempo pelan, mendayu dan cocok untuk yang sedang kasmaran. Saya tidak sedang kasmaran, namun saya penasaran siapa pemetik gitar dilagu ini. Ada yang tahu?

Masih banyak sebenarnya yang merupakan favorit saya. Dari  Stairway To Heaven-nya Led Zeppelin, Tesla, Gypsy Kings, Michael Schenker dan sebagainya. Kelima lagu diatas sangat cocok didengarkan ketika anda duduk dibalkon selepas hujan tengah malam. Berteman kopi dan berbatang-batang kretek. Membaui tanah basah,dan menatap bintang november yang bertaburan. Berbaur nyanyian tokek dan jangkrik tentunya.
Sesuai judul tulisan ini. Buat kamu para jomblo, raih gitarmu. Petikkan satu dari lima lagu tersebut untuk pujaan anda. Dengan timing dan sikon yang tepat, yakinlah mereka para wanita akan klepek-klepek hatinya. Jangan takut dibilang sok romantis. Pada dasarnya mereka itu suka disanjung. So, stay cool and show them you care. Good luck! Jangan lupa sebut nama saya tiga kali

Naval Roche, Lisbon 201113

Categories: ngroweng | 15 Comments

Opo Onone

image

Gambar diatas adalah papan penunjuk waktu diatas halte bus di Lisbon. Nampak disitu nomer bus, jurusan dan berapa lama bus itu akan tiba di halte tempat kita menunggu. Canggih dan bener-bener tepat waktu.
Tujuan saya ke Vasco Da Gama. Dari naval rocha naik bus no 728 arah Oriente. Busnya model kaya busway gandeng. Cuma banyakan tempat duduknya. Ada yang adep-adepan. Ada yang biasa. Tiket 1,80 euro.
Dari naval rocha lewatin colombo, santa apolonia sampe oriente. Nyebrang jalan udah vasco da gama. Jjs tentunya. Tak lupa mampir Fnac beli tuner gitar. Nggak ada yang berubah sih di mall gede itu. Dekorasi natalnya sama kaya tahun lalu.
Tukeran duit disono juga lebih gede dari Casino Lisbon. 1000$ dapet 730 euro. Di Casino cuma 710.
Acaranya cuma beli nasi goreng, makan sambil wifi, beli simcard, nyariin boot buat ragil saya karena yang lama udah sesek.
Jalan-jalan bersejarahnya besok aja deh. Kaki pegel banget ni *ngeles.
Rencana sih besok mau ke colombo, baixa atau belem atau alfama. Hahaha..nafsunya gede. Cuma belum tahu jalan-jalannya. Tahunya kalo naik taxi atau tram atau bus. *apal nomernya doang, haltenya ngga apal -.-‘

image

image

Harga sepatunya masuk diakal

image

Madang disik

image

Menunggu nasi digoreng

image

image

Seporsi ama fanta cuma 8 euro

image

image

Casino Lisbon, dari lt 3. Bandnya ditanam didinding. Barnya model spiral keatas. Kalo hari rabu ada striptease *glodakk..apal -.-'

image

Foto2nya kurang seru ni. Lagi males. Lagian keluarnya malam. Burek semua jadinya.🙂

Naval Roche, 191113

Categories: mblayang Portugal | 19 Comments

Naval Roche Lisbon

Hari ini kami semua kerja rodi. Dimulai pukul enam pagi hingga sekarang, saat saya duduk sendiri didepan galangan pukul sepuluh malam. Schedule drydock selama dua minggu di Lisbon sudah dimulai, berbeda dengan planning awal yang seharusnya bertempat di Setubal. Well, bagi para kru, sudden movement ini berkah tersendiri. Tidak seperti galangan di Setubal yang jauh dari pusat kota, disini kami hanya berjarak beberapa meter dari jalan raya. 
Mungkin memang jodoh, hampir setiap tahun saya kebagian “jatah” drydock. Empat diantaranya di Setubal, dan ini kedua kalinya di Lisbon dengan lokasi sedikit bergeser dari galangan tahun kemaren.
Berbeda dengan hari biasa dimana kami harus bekerja selama 10,5 jam, di masa drydock waktu itu diperpendek menjadi 8 jam. Kecuali hari pertama dan terakhir yang kadang menyita lebih dari 12 jam. Itu lumrah. Kelebihan jam kerja hari ini akan ditebus dengan mengurangi jam kerja di hari berikutnya. Sesuai standar ILO dan IMO.
Preparation sudah dimulai jauh-jauh hari. Orang pusat, kontraktor dari berbagai negara mulai berdatangan dari minggu kemarin. Para kontraktor ini terbagi dalam beberapa divisi. Bagian mesin, body, interior dan sebagainya. Drydock kali ini difokuskan pada desain baru kamar, interior, furniture, galley dan tentu saja penggantian plate bodi yang sudah keropos.
Kami tidak ambil pusing dengan kerjaan kontraktor tersebut. Untuk kru sendiri, fokus utama adalah menjaga kondisi yacht. Harap maklum, selama drydock rumah kedua kami bakal diobrak-abrik. Welding disana-sini, pipa-pipa yang diganti baru,pasang alat-alat baru dan seterusnya. Selain kotor, potensi kerusakan terhadap barang-barang yacht sangat besar.
Selepas disembarkasi, semua daleman yacht dibungkus pelindung. Karpet dilapisi plastic mask dan kardus, teak deck dilapisi plywood, railing, chandelier, piano, tivi, pigura, semuanya. Pekerjaan sepele namun menguras energi dan waktu.
Belum kelar urusan bungkus membungkus, yacht sudah mulai digiring masuk galangan. Saya dan beberapa rekan menyaksikan prosesi ini hingga tuntas. Proses yang tidak mudah untuk memasukkan sebuah yacht raksasa kedalam kolam kecil. Lain kali saja saya cerita soal ini.
Yang jelas, dua minggu kedepan kami bakal sengsara. Aircon mati, toilet nyala hanya pada waktu tertentu, air panas kadang ada kadang tidak. Begitulah.. kami harus flexible dengan kondisi drydock.
So dua minggu saya anggap vacation saja. Lepas dari rutinitas dan bisa menjelajah Lisbon dikala senggang.
Sudah ah, beku ni pantat.

Naval Roche , Lisbon 161113

image

Prepare masuk dock

image

image

image

Disekat, lalu air dipompa keluar. Sama proses nya dengan lock di Panama Canal

image

image

Diningroom

image

Lobi

image

Alleyway

image

image

Ditenggelamkan

image

Bandingkan tinggi layar dengan crane disampingnya

image

image

Butuh 6 jam untuk memompa air

image

Jembatan penghubung

Categories: mblayang Portugal | 16 Comments

Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 714 other followers